”Berlibur Ala Pesantren”

Sebenarnya keinginan saya untuk memposting laman ini semenjak dua bulan yang lalu. Namun karena aktivitas saya yang sangat padat membuat saya tidak sempat memposting laman ini.

Postingan ini berisi tentang pengalaman saya, perjalanan saya saat di pondok pesantren pada liburan semester yang lalu. Langsung saja kita simak coretan lebih tepatnya ketikan yang tidak begitu indah namun akan menginspirasikan gagasan kalian.

oke   kita   mulai   saja   ceritanya   


Malam yang gelap namun selalu diawasi oleh sekelompok bintang-bintang yang senantiasa menjaga kemerlapan malam dan bulan yang selalu menjaga cahayanya yang indah. Malam itu aku hendak pergi ke sebuah tempat yang membuat ku nyaman.

Namun ditengah niatku itu ibuku berkata “a, besok ke pesantren ya”.


Aku pun menjawab dengan nada setengah bingung “besok?”.

Ibuku pun menjawab “iya besok pesantrennya juga cuma 2 minggu, jadi sekarang siap-siap, nanti abis pulang ngaji jangan kemaleman pulangnya”

Aku menjawab dengan nada datar “hem, iya mah”

Ditengah-tengah perjalananku aku pun masih membayangkan bagaimana kehidupan di dalam pesantren? Apakah menyenangkan? Atau mungkin sebaliknya? Namun pikiran itu ku buang jauh-jauh dan memusatkan pikiranku pada pengajian. Setelah pengajian usai, aku melanjutkan aktivitas rutinku mempelajari salah satu alat musik ritmis yaitu hadroh, atau yang dikenal pada masyarakat umum sebagai rebana.

Aktivitas ku pun usai. Ditengah-tengah kesunyian malam, ditempat tidur aku masih membayangkan apa yang akan terjadi jika aku berada ditengah-tengah kehidupan pondok pesantren apalagi aku belum pernah berada ditengah-tengah situasi tersebut. Aku membayangkan situasi pesantren yang begitu ketat, dan sama sekali tidak menyenangkan. Aku juga membayangkan jika pesantren itu diharuskan untuk tidak membawa handphone dan atau peralatan-peralatan elektronik lainnya. Aku berpikir sejenak, “mengapa tidak aku turuti saja kemauan mereka, mereka orang tuaku pasti mereka akan memeberikan sesuatu yang baik untukku”. Lalu aku tidur dengan pikiran yang sudah tenang.

Pagi hari yang begitu sejuk dan tenang membuatku enggan beranjak dari kasurku, namun ku singkirkan pikiran yang buruk itu lalu segera beranjak ke kamar mandi untuk bersiap-siap melasanakan sholat Shubuh berjamaah di Masjid Al Abidin. Setelah itupun aku masih melanjutkan tidurku yang baru beberapa jam dikarenakan aku terus membayangkan bagaimana keadaan maupun situasi didalam pesantren yang nanti akan aku jalani. Aku pun kembali tertidur lelap.

Beberapa jam kemudian seseorang membangunkan ku yang tak lain adalah ibuku seraya berkata

“A udah siang, kata bapak hari ini dianternya ke pesantren”

“Sekarang? Nanti aja lah aa mau ke rumah teh eva dulu, ga enak soalnya udah janji mau ke rumahnya” dengan nada orang mengantuk.
“Yaudah cepet siap-siap nanti abis Zhuhur berangkat sama bapak sama ade” jawab ibuku.

“Naik apaan? Mobil?” aku bertanya keheranan.

“Naik motor, nanti motornya dititipin di terminal terus naik bis. Yuadah cepet siap-siap” jawab ibuku sabar.

Aku pun beranjak dari kasur dan pergi ke kamar mandi untuk mandi. Cukup lama aku membuang-buang waktuku di kamar mandi akupun segera menyelesaikan mandiku. Lalu akupun memasukkan baju, buku, perlatan, dan perlengkapan saat di pesantren ke dalam tas. Aku kembali berpikir bagaimana keadaan didalam pesantren, saat aku berada jauh didalam lamunanku ibuku pun memeberitahu jika ayahku sudah siap berangkat.

“A cepet bapak udah siap”


“Iya mah sebentar lagi” jawabku lembut.

Akupun mempercepat kerjaku yang sedari tadi diusik oleh lamunanku.

“Mah aa udah siap” sahutku.

“Yaudah kamu hati-hati ya a, inget pesan orang tua” kata ibu.

Perkataan ibu membuat aku sedih, aku akan membuat mereka senang setelah aku pulang dari pesantren.

“Iya mah” jawabku singkat.

Lalu akupun berangkat bersama ayah dan adikku yang paling kecil.

Di dalam perjalanan, aku hanya terdiam melihat lalu lalangnya orang-orang di dalam bis yang besar ini. Ada yang sedang mengobrol, ada pula yang sedang menawarkan dagangannya kepada seluruh penumpang. Aku pun menikmati perjalanan yang sedikit membosankan ini dengan mendengarkan lagu kesukaanku. Beberapa jam berlalu kami belum juga sampai di tujuan lebih tepatnya di daerah Cicalengka, Kabupaten Bandung. Pada pukul 5:15 sore sampailah kami disebuah pesantren tradisional yang sejatinya adalah milik nenek ku. Namun disana tidak menerima murid yang hanya belajar sebentar seperti aku yang hanya belajar 2 minggu kedepan. Jadi kami pun mengurungkan niat untuk menitipkan aku pada pesantren tersebut, jadi kami berniat langsung ke pesantren yang letaknya tidak jauh dari pesantren pertama, itu juga milik pamanku. Namun hujan membuat kami harus menunda niat kami, jadi kami menginap semalam di rumah nenekku.

Pagi yang masih terjaga kesejukannya kami pun langsung berangkat menuju pesantren selanjutnya. Lalu kami berbincang-bincang dengan pemilik pondok pesantren yang sejatinya milik pamanku. Dan pesantren ini menampung santri yang hanya beberapa minggu saja belajar di pesantren ini. Lalu ayah mengantarkan aku hanya sampai asrama dan menitipkan aku sejumlah uang untuk perbekalan. Lalu aku pamit kepada ayah dan adikku dan meminta doa kepada ayahku, dan kemudian ayah dan adikku pulang kembali ke Jakarta.

Aku pun memulai aktifitas ku yang baru dalam suasana yang juga baru di dalam pesantren. Aku juga mulai berkenalan dan bersosialisasi terhadap santri santri. Dikarenakan di sana berbahasa sunda, jadi akupun hanya sekedarnya saja bersosialisasi dengan mereka. Namun mereka pun juga membatu ku agar aku bisa berbicara bahasa sunda.Aku sebenarnya memiliki darah sunda yaitu dari ayahku, namun pengetahuanku tentang bahasa sunda itu sendiri hanya sedikit karena tidak ada yang mengajariku. Dan seiring aku bersosialisasi, aku pun mengetahui bahwa sebenarnya santri-santri yang berada di sana mayoritas adalah saudara-saudara ku yang memang bukan saudara dekat ku, melainkan saudara-saudara bibi ku.

Pengajian pun dimulai. Jadwal mengaji di pesantren ini yaitu pagi setelah sholat Shubuh hingga sekitar pukul 10:00, diteruskan kembali setelah sholat Ashar hingga Maghrib, dan setelah sholat Maghrib diteruskan kembali pengajian tersebut hingga sekitar pukul 08:00 malam, lalu diakhiri sholat Isya berjamaah. Dalam satu minggu terdapat hari dimana pengajian diliburkan yaitu setiap hari Kamis dan Jumat.

Hari demi hari ku lalui dengan penuh semangat karena aku telah salah dalam menilai kedaan yang akan ku jumpai di dalam pesantren. Pesantren tersebut dibolehkan untuk merokok saat pengajian berlangsung. Handphone pun juga dapat digunakan, namun tentu saja tidak di dalam jam pengajian berlangsung. Aku pun menjadi betah tinggal di pesantren ini.Namun seiring berjalannya waktu sakit tidak bisa ku hindari. Aku hanya terbaring lemas karena suhu tubuhku yang tinggi, alhamdulillah santri santri memperhatikan aku ketika aku sakit. Disaat aku mersakan sakit aku terdiam, mengingat sesuatu, aku merenung ketika aku sakit ada ibuku yang selalu setia menemaniku meskipun aku sering membuatnya marah. Aku pun menangis mengingat akan hal itu, dalam hatiku aku berjanji aku akan memperbaiki sikapku setelah kembali dari pesantren ini.Setelah lama aku beristirahat yakni selama dua hari penuh alhamdulillah keadaan ku pun membaik. Lalu aku kembali beraktifitas sebagaimana semestinya.

Terdapat satu hari dimana kami para santri mendapati sebuah malam pergantian tahun 2012 ke tahun 2013. Beberapa dari mereka ada yang pulang menemui keluarga mereka, namun ada juga yang hanya berdiam di pondok pesantren seperti diriku. Kami yang hanya berdiam diri di pondok pesantren melewati malam pergantian tahun dengan hanya mengobrol, bermain dengan permainan sederhana, dan juga terdapat di antara mereka yang hanya asyik dengan aktifitasnya sendiri. Dan malam itu pun berlalu dengan indahnya.

Hari demi hari mingu demi minggu ku lewati aktifitas di pesantren ini, dan tibalah saatnya bagi ku untuk kembali ke rumah. Memang keinginan ku untuk terus tetap berada di sana sangat besar, namun takdir berkata lain. Aku harus kembali menemui keluarga di Jakarta. Aku pun segera berpamitan dengan semua santri, mereka pun berkata agar aku segera datang kembali ke pesantrn ini, dan aku pun mengiyakan dengan jawaban insyaallah karena memang aku cocok dengan pesantren tersebut. Lalu aku berpamitan dengan saudara-saudara ku yang berada di sana dan tak lupa juga berpamitan dengan guru ku. Maka kembalilah aku ke tempat kelahiran ku.

Akhirnya ku pun sampai di rumah. Dan aku telah disambut oleh keluarga ku, sungguh mengharukan :')

Oke sobat sampai disini cerita saya. Silakan jika ada pendapat, kritik, saran agar ke depannya saya bisa berbagi cerita-cerita yang lebih menarik dari cerita-cerita sebelumnya


Terima kasih dan sampai jumpa :)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © Muhammad Fitra Pratama